PP 56 tahun 2019 tentang Perubahan PP 39 tahun 2018 tentang Pelaksanaan UU Keprotokolan
Apa yang diatur PP 56 tahun 2019 tentang Perubahan PP 39 tahun 2018 tentang Pelaksanaan UU Keprotokolan
PP 56 tahun 2019 tentang Perubahan PP 39 tahun 2018 tentang Pelaksanaan UU Keprotokolan ini mengatur tata urutan upacara bendera dalam Acara Kenegaraan memperingati hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, penyesuaian penempatan Pengaturan Tata Tempat Tamu Lembaga Negara Asing dan pengaturan Tata Tempat bagi Ketua Lembaga Negara/Wakil Ketua Lembaga Negara serta pengaturan Tata Tempat pada saat penandatanganan perjanjian internasional antara kedua negara.
PP 56 tahun 2019 tentang Perubahan PP 39 tahun 2018 tentang Pelaksanaan UU Keprotokolan ini mengubah Tata Tempat, Tata Upacara, Tata Penghormatan, Keprotokolan Tamu Negara, Tamu Pemerintah, dan Tamu Lembaga Negara Asing, dan pengaturan kunjungan serta jamuan.
Apa saja alasan Perubahan PP Keprotokolan?
Alasan perubahan yang dilakukan dalam PP 56 tahun 2019 tentang Perubahan PP 39 tahun 2019 tentang Pelaksanaan UU 9 tahun 2010 tentang Keprotokolan karena ingin menyesuaikan dengan sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan kebiasaan internasional.
Pada Pasal 23A, Ketentuan tata urutan upacara benderanya dimaksudkan untuk menyesuaikan sejarah tata urutan upacara bendera pada saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945.
Pada penjelasan Pasal 28 Ayat (2) yaitu tentang Kata sapaan bagi Tamu Negara (Kepala Negara/Kepala Pemerintahan Negara Asing) serta Pimpinan Organisasi Internasional (title and form of addressed), dapat diketahui dari Perwakilan Negara Asing di Indonesia atau Kementerian Luar Negeri Negara Asing. Kata sapaan ini sesuai tata persuratan formal dan korespondensi diplomatik atau sapaan lisan pejabat negara dengan mitra kerja negara asing.
Pengesahan PP 56/2019
Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan ditetapkan di Jakarta pada tanggal 15 Agustus 2019 oleh Presiden Joko Widodo.
Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan diundangkan Menkumham Yasonna H. Laoly di pada tanggal 15 Agustus 2019 di Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan ditempatkan pada Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 149. Penjelasan atas PP 56 tahun 2019 tentang Perubahan PP 39 tahun 2018 tentang Pelaksanaan UU Keprotokolan di tempatkan pada Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6375. Agar setiap orang mengetahuinya.
Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 56 Tahun 2019 adalah peraturan yang mengubah Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan. PP ini ditetapkan dan diundangkan pada 15 Agustus 2019 oleh Presiden Joko Widodo, dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 149 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 6375. Statusnya masih berlaku.
Latar Belakang dan Tujuan Perubahan
PP 39 Tahun 2018 yang sebelumnya mengatur secara rinci tata tempat, tata upacara, tata penghormatan, keprotokolan tamu negara/pemerintah/lembaga negara asing, serta kunjungan dan jamuan, perlu disesuaikan. Perubahan dilakukan untuk:
- Menyesuaikan dengan sejarah bangsa dan negara Indonesia, khususnya terkait upacara bendera peringatan Proklamasi Kemerdekaan.
- Menyesuaikan dengan kebiasaan internasional dalam pengaturan keprotokolan.
- Memperjelas dan memperbaiki pengaturan tata tempat bagi pejabat lembaga negara dan tamu lembaga negara asing di tingkat daerah (provinsi, kabupaten/kota).
Dasar hukumnya meliputi Pasal 5 ayat (2) UUD NRI 1945, UU No. 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, dan PP No. 39 Tahun 2018 sendiri.
Isi Perubahan Utama (Pasal I)
PP 56/2019 mengubah beberapa ketentuan dalam PP 39/2018 sebagai berikut:
1. Penyisipan Bagian Baru di BAB II TATA TEMPAT
Ditambahkan Bagian Kedua A tentang “Tata Tempat bagi Ketua Lembaga Negara dan Wakil Ketua Lembaga Negara Republik Indonesia dalam Acara Resmi di Provinsi, Kabupaten, dan Kota”.
2. Penambahan Pasal 6A
Mengatur secara khusus urutan tata tempat:
Di Provinsi:
- Ketua Lembaga Negara / Wakil Ketua Lembaga Negara
- Gubernur
- Anggota Lembaga Negara
- Wakil Gubernur
- Pejabat Pemerintahan Daerah
Di Kabupaten/Kota:
- Ketua Lembaga Negara / Wakil Ketua Lembaga Negara
- Gubernur
- Anggota Lembaga Negara
- Bupati/Walikota
- Wakil Bupati/Walikota
- Pejabat Pemerintahan Daerah
Juga mengatur tata tempat rangkaian kendaraan (konvoi) untuk Ketua/Wakil Ketua Lembaga Negara, yang meliputi: kendaraan sweeper Polisi, kendaraan protokol, kendaraan VIP, kendaraan pejabat pemerintahan daerah, dan kendaraan delegasi.
3. Perubahan Pasal 15
Memperbarui pengaturan tata tempat bagi Tamu Lembaga Negara Asing:
Di Provinsi:
- Ketua Lembaga Negara Asing
- Gubernur
- Duta Besar LBBP/Kepala Perwakilan Negara Asing
- Ketua DPRD Provinsi
- Kepala Perwakilan Konsuler Negara Asing
- Delegasi Lembaga Negara Asing
Di Kabupaten/Kota:
- Ketua Lembaga Negara Asing
- Gubernur atau Bupati/Walikota
- Duta Besar LBBP/Kepala Perwakilan Negara Asing
- Ketua DPRD Kabupaten/Kota
- Kepala Perwakilan Konsuler Negara Asing
- Delegasi Lembaga Negara Asing
Juga mengatur rangkaian kendaraan tamu lembaga negara asing (sweeper Polisi, protokol, VIP, dan delegasi).
4. Penghapusan Pasal 16 dan Pasal 17
Kedua pasal ini dihapus karena isinya sudah digantikan atau disesuaikan dengan ketentuan baru.
5. Perubahan Pasal 23 ayat (2)
Memperjelas tata urutan upacara bendera dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Urutan minimal meliputi:
- Pengibaran Bendera Negara diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
- Mengheningkan cipta
- Mengenang detik-detik Proklamasi (diiringi tembakan meriam, sirine, bedug, dan sebagainya)
- Rangkaian lainnya yang disesuaikan dengan sejarah Proklamasi 1945
Makna dan Dampak
PP 56 Tahun 2019 bersifat penyempurnaan teknis terhadap PP 39 Tahun 2018. Perubahan utamanya fokus pada:
- Penghormatan yang lebih proporsional kepada pimpinan lembaga negara (seperti Ketua MPR, DPR, DPD, MA, MK, dan lainnya) ketika berada di daerah.
- Penyesuaian protokol untuk tamu lembaga negara asing.
- Penguatan nilai historis dalam upacara bendera 17 Agustus.
Dengan adanya perubahan ini, pelaksanaan keprotokolan di tingkat daerah menjadi lebih jelas, tertib, dan sesuai dengan hierarki serta kebiasaan internasional, sambil tetap menghormati kedaulatan dan martabat negara.
Secara keseluruhan, PP 56/2019 memastikan bahwa aturan pelaksanaan UU Keprotokolan tetap relevan dengan dinamika ketatanegaraan dan tradisi kebangsaan Indonesia.
PP 56 tahun 2019 tentang Perubahan PP 39 tahun 2018 tentang Pelaksanaan UU Keprotokolan
Latar Belakang
Pertimbangan PP 56 tahun 2019 tentang Perubahan PP 39 tahun 2018 tentang Pelaksanaan UU Keprotokolan adalah:
- bahwa untuk menyesuaikan dengan sejarah bangsa dan negara Indonesia serta pengaturan keprotokolan berdasarkan kebiasaan internasional, beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan perlu diubah;
- bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan;
Dasar Hukum
Dasar hukum PP 56 tahun 2019 tentang Perubahan PP 39 tahun 2018 tentang Pelaksanaan UU Keprotokolan adalah:
- Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 125 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5166);
- Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6243);
Penjelasan Umum
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan yang mengatur mengenai Tata Tempat, Tata Upacara, Tata Penghormatan, Keprotokolan Tamu Negara, Tamu Pemerintah, dan Tamu Lembaga Negara Asing, dan pengaturan kunjungan serta jamuan perlu diubah. Perubahan dilakukan menyesuaikan dengan sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan kebiasaan internasional.
Peraturan Pemerintah ini mengatur antara lain tata urutan upacara bendera dalam Acara Kenegaraan memperingati hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, penyesuaian penempatan pengaturan Tata Tempat Tamu Lembaga Negara Asing dan pengaturan Tata Tempat bagi Ketua Lembaga Negara/Wakil Ketua Lembaga Negara serta pengaturan Tata Tempat pada saat penandatanganan perjanjian internasional antara kedua negara.
Isi PP 56 tahun 2019
Berikut adalah isi Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, bukan format asli:
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 39 TAHUN 2018 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG KEPROTOKOLAN.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6243), diubah sebagai berikut:
-
Di antara Bagian Kedua dan Bagian Ketiga BAB II TATA TEMPAT disisipkan 1 (satu) bagian yakni Bagian Kedua A, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Bagian Kedua A
Tata Tempat bagi Ketua Lembaga Negara dan Wakil Ketua Lembaga Negara Republik Indonesia dalam Acara Resmi di Provinsi, Kabupaten, dan Kota
-
Di antara Pasal 6 dan Pasal 7 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 6A, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 6A
- Tata tempat bagi Ketua Lembaga Negara/Wakil Ketua Lembaga Negara Republik Indonesia dalam Acara Resmi di provinsi ditentukan dengan urutan:
- Ketua Lembaga Negara/Wakil Ketua Lembaga Negara;
- Gubernur;
- Anggota Lembaga Negara;
- Wakil Gubernur; dan
- Pejabat Pemerintahan Daerah.
- Tata tempat bagi Ketua Lembaga Negara/Wakil Ketua Lembaga Negara Republik Indonesia dalam Acara Resmi di kabupaten/kota ditentukan dengan urutan:
- Ketua Lembaga Negara/Wakil Ketua Lembaga Negara;
- Gubernur;
- Anggota Lembaga Negara;
- Bupati/Walikota;
- Wakil Bupati/Walikota; dan
- Pejabat Pemerintahan Daerah.
- Tata tempat rangkaian kendaraan Ketua Lembaga Negara atau Wakil Ketua Lembaga Negara Republik Indonesia di provinsi dan/atau kabupaten/kota, pengaturannya disesuaikan dengan kedudukan dan jabatannya.
- Tata tempat rangkaian kendaraan Ketua Lembaga Negara atau Wakil Ketua Lembaga Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
- kendaraan sweeper Polisi;
- kendaraan protokol;
- kendaraan VIP;
- kendaraan Pejabat Pemerintahan Daerah; dan
- kendaraan delegasi Lembaga Negara Republik Indonesia.
- Tata tempat bagi Ketua Lembaga Negara/Wakil Ketua Lembaga Negara Republik Indonesia dalam Acara Resmi di provinsi ditentukan dengan urutan:
-
Ketentuan Pasal 15 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 15
- Tata tempat bagi Tamu Lembaga Negara Asing dalam Acara Resmi di provinsi, ditentukan dengan urutan:
- Ketua Lembaga Negara Asing;
- Gubernur;
- Duta Besar LBBP/Kepala Perwakilan Negara Asing untuk Republik Indonesia;
- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi;
- Kepala Perwakilan Konsuler Negara Asing; dan
- Delegasi Lembaga Negara Asing.
- Tata tempat bagi Tamu Lembaga Negara Asing dalam Acara Resmi di kabupaten/kota, ditentukan dengan urutan:
- Ketua Lembaga Negara Asing;
- Gubernur atau Bupati/Walikota;
- Duta Besar LBBP/Kepala Perwakilan Negara Asing untuk Republik Indonesia;
- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota;
- Kepala Perwakilan Konsuler Negara Asing; dan
- Delegasi Lembaga Negara Asing.
- Tata tempat bagi Tamu Lembaga Negara Asing di provinsi dan di kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat ditentukan sebagaimana Lampiran Huruf M dan Lampiran Huruf N Peraturan Pemerintah ini.
- Tata tempat rangkaian kendaraan Tamu Lembaga Negara Asing dalam acara kunjungan kerja di Ibukota Negara Republik Indonesia, provinsi dan kabupaten/kota, diberikan oleh Lembaga Negara Republik Indonesia sebagai penghormatan kepada Tamu Lembaga Negara Asing.
- Tata tempat rangkaian kendaraan Tamu Lembaga Negara Asing sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi:
- kendaraan sweeper Polisi;
- kendaraan protokol;
- kendaraan VIP; dan
- kendaraan delegasi Tamu Lembaga Negara Asing.
- Tata tempat bagi Tamu Lembaga Negara Asing dalam Acara Resmi di provinsi, ditentukan dengan urutan:
-
Pasal 16 dihapus.
-
Pasal 17 dihapus.
-
Ketentuan ayat (2) Pasal 23 diubah, sehingga Pasal 23 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 23
- Tata urutan dalam upacara bendera sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) huruf a sekurang-kurangnya meliputi:
- pengibaran Bendera Negara diiringi dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya;
- mengheningkan cipta;
- pembacaan naskah Pancasila;
- pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; dan
- pembacaan doa.
- Tata urutan upacara bendera dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, sekurang-kurangnya meliputi:
- pengibaran Bendera Negara diiringi dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya;
- mengheningkan cipta;
- mengenang detik-detik Proklamasi diiringi dengan tembakan meriam, sirine, bedug, lonceng gereja dan lain-lain selama satu menit;
- pembacaan Teks Proklamasi; dan
- pembacaan doa.
- Tata urutan dalam upacara bendera sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) huruf a sekurang-kurangnya meliputi:
-
Di antara Pasal 23 dan Pasal 24 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 23A, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 23A
Tata urutan upacara bendera dalam Acara Kenegaraan memperingati Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan sebagai berikut:
- mengenang detik-detik Proklamasi diiringi dengan tembakan meriam dan sirine;
- pembacaan Teks Proklamasi;
- mengheningkan cipta;
- pembacaan doa; dan
- pengibaran Bendera Negara diiringi dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
-
Pasal 28 substansi tetap dan penjelasannya diubah, sehingga rumusan penjelasan Pasal 28 adalah sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal demi Pasal Angka 8 Peraturan Pemerintah ini.
-
Pasal 29 substansi tetap dan penjelasannya diubah, sehingga rumusan penjelasan Pasal 29 adalah sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal demi Pasal Angka 9 Peraturan Pemerintah ini.
-
Di antara ayat (3) dan ayat (4) Pasal 56 disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (3a), sehingga Pasal 56 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 56
- Acara pokok Kunjungan Kenegaraan dan Kunjungan Resmi dapat meliputi:
- upacara penyambutan kenegaraan di Istana Kepresidenan;
- pengisian buku tamu;
- foto bersama;
- kunjungan kehormatan kepada Presiden;
- pertemuan bilateral;
- penandatanganan perjanjian internasional antara kedua negara;
- pernyataan/konferensi pers bersama;
- Jamuan Kenegaraan/Jamuan Resmi;
- peletakan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata;
- kunjungan kehormatan kepada Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah; dan
- rangkaian kunjungan ke proyek pembangunan/obyek wisata/ceramah di universitas dan/atau kunjungan ke daerah.
- Acara pokok Kunjungan Kerja dapat meliputi:
- pengisian buku tamu;
- foto bersama;
- kunjungan kehormatan kepada Presiden;
- pertemuan bilateral;
- penandatanganan perjanjian internasional dalam rangka konferensi internasional; dan
- pernyataan/konferensi pers bersama.
- Dalam acara pokok kunjungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Negara/Kepala Pemerintahan didampingi spouse, kecuali acara sebagaimana yang dimaksud pada huruf e, huruf f, huruf g, dan huruf j.
-
- Tata tempat penandatanganan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dan ayat (2) huruf e sebagaimana Lampiran Huruf Q Peraturan Pemerintah ini atau menyesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu.
- Dalam hal Tamu Negara membawa cinderamata yang khusus dari negaranya, pertukaran cinderamata dilakukan melalui petugas protokol.
- Spouse Tamu Negara mengikuti spouse programme didampingi oleh spouse Menteri Republik Indonesia Pendamping Tamu Negara.
- Dalam hal Wakil Presiden melakukan kunjungan kehormatan kepada Tamu Negara, kunjungan dapat dilaksanakan di tempat Tamu Negara menginap.
- Acara pokok Kunjungan Kenegaraan dan Kunjungan Resmi dapat meliputi:
-
Pasal 72 substansi tetap dan penjelasannya diubah, sehingga rumusan penjelasan Pasal 72 adalah sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal demi Pasal Angka 11 Peraturan Pemerintah ini.
-
Pasal 73 substansi tetap dan penjelasannya diubah, sehingga rumusan penjelasan Pasal 73 adalah sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal demi Pasal Angka 12 Peraturan Pemerintah ini.
Pasal II
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Posting Komentar